Kamis, 03 November 2011

Perayaan Warga Tionghoa Indonesia Sepanjang Tahun by Ch. Win

Pengetahuan baru nih buat kita.....dan semakin membuat kita sadar keberagaman ini membuat kita kaya...(3Funky)

Berikut ini saya akan sharing seputar perayaan warga Tionghoa Indonesia sepanjang tahun yang sebagian besarnya sudah beradaptasi dengan kebudayaan masyarakat setempat di seluruh Indonesia. Adat dan kebiasaan di setiap wilayah dari Timur ke Barat, Utara ke Selatan mungkin akan ada sedikit perbedaan namun pada hakekatnya adalah berasal dari satu dasar yang sama. Aslinya, ada banyak sekali perayaannya, tetapi yang menurun hingga ke generasi saya dan masih di rayakan hingga saat ini hanyalah beberapa saja. Seluruh perayaan adalah berdasarkan penanggalan Imlek (Lunar Calender). Yuk disimak berikut ini.

**********

1. Hari Raya Imlek / Lunar New Year

• Hari terakhir bulan keduabelas / Sa Cap Meh / Lunar New Year Eve / Malam Imlek

Persiapan perayaan imlek dilakukanjauh jauh hari sebelum hari H. Dimulai dari bersih bersih rumah, belanja pakaian dan perlengkapan baru, belanja keperluan dapur, belanja hiasan imlek, dan membuat kue untuk hidangan bagi tamu yang datang. Di jaman yang modern ini, Kue kue biasanya lebih banyak beli daripada membuat sendiri.

Perayaan Imlek dimulai dari hari terakhir bulan keduabelas yang biasanya disebut “Sa Cap Meh (Malam 30)” / Lunar New Year Eve. Ini adalah seperti Malam Takbiran bagi umat Muslim. Hari dimana dalam satu keluarga, semua berkumpul untuk makan malam bersama “Thuan Yuen Fan” / Reunion Dinner. Pada jaman kanak kanak kami, ini adalah malam yang sangat menyenangkan karena kami mulai mengenakan pakaian baru. Sepanjang hari Ibu sibuk didapur menyiapkan segala hidangan terbaik untuk disantap bersama. Anak anak rantau yang bersekolah maupun yang bekerja yang masih single dan anak laki laki yang sudah berkeluarga akan pulang ke rumah orang tua. Rasanya akan ramai sekali karena teman teman yang merantau di daerah lain pun akan pulang.

Beberapa hidangan untuk 'Thuan Yuen Fan' ala Mertua saya adalah sbb:
Steamboat Komplit, Udang Cah Saos Asam Manis. Ikan Kukus Teochew, Cap Chai komplit, Kari, Ayam Goreng, Rendang Daging, Ikan Linggis Kukus, Ngo Hiang, Buah Kalengan / Soft Drink

Sedangkan hidangan untuk "Thuan Yuen Fan" ala Mama saya adalah sbb:
Mie goreng / Chiang Mie goreng, Sate, Ayam Panggang, Kari / Opor, Cah Kacang Polong, He Keng, Sup Haisim / Sup Sirip Hiu / Sup Kaki Pelanduk, Buah Kalengan / Es Agar Agar

Setiap bahan dari masakan memiliki arti tersendiri... Setiap aktivitas dalam rumah yang dilakukan pun memiliki makna tersendiri. Hidangan “Thuan Yuen Fan“ biasanya tidak disantap habis dan disisakan untuk keesokan harinya. Konon katanya, hidangan yang disisakan adalah supaya “Nien Nien You Yui” (terjemahan lugasnya adalah “Sepanjang tahun ada ikan”) yang artinya “Supaya Ada Rejeki Sepanjang Tahun”.

Setelah makan malam bersama, acara bebas dimana ada yang bantu di dapur, dan ada yang bantu menghias hias dengan tempelan, bunga bungaan, dsb. Untuk di wilayah Kijang (Bintan) - kepri, anak anak muda akan berkumpul di Kelenteng atau di rumah teman dan bergadang semalaman suntuk sambil ngobrol atau ada juga yang sambil menunggu jam untuk bersembayang di klenteng dalam rangka penyambutan Hari Raya Imlek. Konon katanya semakin lama bergadangnya semakin bagus karena akan membawa hoki usia panjang dan kesehatan bagi orang tuanya. Tepat pukul 12 malam akan dibunyikan petasan dan kembang api tanda pergantian Tahun Imlek (Lunar Year).

• Hari pertama bulan pertama / Cia Gwe Chiu It / Lunar New Year / Hari Raya Imlek

Dalam perayaan Chinese New Year, generasi muda akan terlebih dahulu mengunjungi yang tua untuk "Pai Ni" / bersilahturahmi. Bagi yang masih single akan menerima Angpao untuk Hoki dan yang sudah menikah wajib memberikan Angpao. Pengalaman CNY saya di Kepri, jika pergi "Pai Ni" akan membawa 2 butir jeruk mandarin untuk diberikan kepada Tuan Rumah, dan nantinya pada saat pamit pulang, Tuan Rumah akan membalas dengan 2 butir jeruk mandarin pula, dan begitu seterusnya untuk setiap kunjungan. Konon katanya, 2 butir jeruk yang dibawa adalah "Wish" kita untuk Tuan Rumah supaya Hoki sedangkan 2 butir jeruk dari Tuan Rumah untuk kita adalah juga merupakan "Wish" kembali untuk Kita supaya Hoki Juga.

Beberapa suguhan yang umum dijumpai saat "Pai Ni" adalah sbb:
o Kue Basah : Lapis Legit, Lapis Surabaya, Egg Tart, Aneka Cake, dsb
o Kue Kering : Nastar, Putri Salju, Cornflakes Chocolate, Aneka Kue Sagu, dsb
o Dodol : Kue Keranjang, Dodol Labu, Dodol Pepaya, dsb
o Kerupuk Kerupukan : Emping Mlinjo, Krupuk Udang, Krupuk Ikan, Kripik Bawang, dsb
o Kacang Kacangan : Kacang Telur, Kacang Mede Madu, Kacang Bawang, Kwaci, dsb
o Buah Kering yang biasanya jualnya dikotak atau ada juga yang kiloan dan Buah segarnya adalah "Jeruk Mandarin"
o Minuman Baik yang bersoda maupun tidak
o Dan masih banyak lagi yang sampai tidak tersebutkan... ^,^

Setiap jenis hidangan memiliki makna sesuai dengan pengartian dari lafal / pengucapannya.

• Hari kedua bulan pertama / Cia Gwe Chiu Ji

Hari kedua Imlek adalah hari mengunjungi keluarga istri bagi pasangan yang sudah menikah. Biasanya seluruh keluarga akan makan bersama sekali lagi dengan menu yang hampir sama dengan menu “Thuan Yuen Fan”.

• Hari ketujuh bulan pertama / Cia Gwe Chiu Chit

Pada hari ketujuh Imlek, Warga Tionghoa akan masak 7 macam sayuran untuk disantap. Masakan ini harus disantap sebelum tengah hari. Konon katanya tujuan dari masakan sayur sayuran ini adalah supaya "Mak Keng" / Mata Terang. Yakni dapat membuka mata kita sepanjang tahun. Masakan disetiap keluarga berbeda beda. Di rumah Ibu, kami biasanya masak Capcai 7 macam sayuran. Sedangkan di rumah Mertua, kami masak “Lui Cha Fan” / Nasi Teh. Mengenai "Lui Cha Fan" bisa di simak disini.
Pada hari ketujuh Imlek, Warga Tionghoa dari suku Hokkien biasanya akan sembayang "Thi Kong" / Tuhan YME. Konon katanya, pada jaman dahulu kala (entah karena alasan apa), suku Hokkien yang dalam persembunyian di kebun tebu baru merayakan Imlek pada hari ketujuh. Untuk mengenang masa tersebut, pohon tebu selalu disertakan dalam upacara sembayang ini.

Untuk masyarakat di Singapura dan Malaysia, akan dirayakan dengan makan “Yusheng” / Fish Salad. Cara makannya adalah “Yusheng” dihidangkan di nampan besar dan masing masing orang berdiri mengelilinginya dengan sumpit di tangan dan mencampurnya mengucapkan kata kata baik untuk kesehatan dan rejeki / “Make a Wish” (kalo saya, sekali jepit 1 wish, jadi banyak wish yang saya sebut ~ Marukh Khan? ^,^). Perayaan dengan “Yusheng” hanya saya jumpai di wilayah Kepri. Mungkin karena Kepri dekat dengan Singapura dan Malaysia, maka sedikit mengadaptasi kebudayaannya.

“Yusheng” adalah salad ikan (umumnya ikan Salmon mentah) yang dilengkapi dengan asinan buah buahan, parutan memanjang aneka sayuran segar (lobak putih, wortel, bengkuang, timun, pepaya, dsb) yang disiram dengan saos special (sejenis saos yang rasanya asem manis, seperti “Kit Yiu” / saos jeruk dari Kalimantan Barat) dan aneka taburan krispy (seperti kreker, wijen, kacang kacangan sangrai, dsb). Overall rasanya adalah fresh, asam, manis, sedikit pedas dari jahe, dan wangi. Seperti rujak segar. Mungkin inilah rujak ala orang Tionghoa.

• Hari kelimabelas bulan pertama / Cia Gwe Cap Go / Lantern Festival / Cap Go Meh

Cap Go Meh adalah hari kelimabelas yang merupakan hari terakhir dari perayaan Imlek. Seluruh keluarga akan makan malam bersama sekali lagi dengan menu yang sama atau lebih sederhana dari menu "Thuan Yuen Fan".

Di dapur Ibu, biasanya kami masak menu yang sama kecuali Sup Haisim / Sup Sirip Hiu / Sup Kaki Pelanduk jika memang dari "Sa Cap Meh" masaknya lebih (nyimpannya di freezer) akan dihidangkan, jika tidak maka kami tidak memasaknya lagi. Di dapur Mertua, kami masak Steamboat Komplit, Cap Chai komplit, Ayam Goreng, dan Buah Kalengan saja.

Di Kalimantan Barat, akan ada perayaan perayaan Pawai Naga dan Barongsai yang disertai dengan "Ta Tung" / Lau Ya / Dukun orang Tionghua yang akan menampilkan berbagai macam atraksi. Pusat perayaan terbesar adalah di kota Singkawang. Untuk daerah lain seperti Pontianak dan Ketapang juga akan ada perayaannya namun tidak sebesar di Singkawang. Sepertinya perayaan terbesar di Indonesia adalah di Singkawang (CMIIW).

Di Kepri, Khususnya di Batam dan Bintan (berpusat di Tanjungpinang), biasanya malam hari akan ada acara Bazaar (Pasar Malam) yang disertai dengan pertunjukan Barongsai, Kembang Api, dan pertunjukan pentas seperti nyanyian dan tarian bertema Imlek. Perayan “Cap Go Meh” tahun kelinci di Batam, panitia Bazaar menyelipkan 1 orang yang berperan sebagai “Chai Sen Ye” / Dewa Keberuntungan yang berkeliling membagi bagikan Rejeki (Permen, Jeruk, Angpao) bagi pengunjung. Anak anak sungguh senang ^,^

2. Hari sembayang Arwah Leluhur / Cheng Beng

Cheng Beng dirayakan pada hari ketiga bulan ketiga (Sa Gwe Chiu Sa) dan biasanya akan jatuh pada tanggal 5 April kalender Masehi. Hari raya yang satu ini adalah hari raya terbesar karena seluruh Warga Tionghoa dimanapun mereka berada akan berbondong bondong pulang untuk berjiarah ke makam leluhur. Konon katanya, jiarah ini akan membawa berkah dan perlindungan dari leluhur kepada seluruh keturunan dari orang yang datang berjiarah.

Dimulai dengan membersihkan dan merapikan makam (membersihkan dari rumput liar, semak belukar, dan tanah tanah yang menempel, serta pengecatan kembali dsb) dilanjutkan dengan sembayang. Untuk perayaan ini biasanya dimulai 2 minggu sebelum dan 2 minggu setelah hari H.

Adapun makanan yang umumnya disertakan dalam sembayang adalah sbb :
Wajik, Agar agar merah, Ang Khak Tho (seperti kueh Ku tetapi berbentuk daun dimana kulit luarnya harus berwarna merah), Neng Kue / Bolu Kukus Mekar, Ka kue / huat kue / kue mangkok beras, Pao, Buah buahan, Permen & coklat, Arak putih, Teh, Nasi putih, Sa Se (3 jenis daging, biasanya ayam utuh beserta hati ampela telor, bebek utuh beserta hati ampela telor, serta bagian dari babi misalnya perut atau kaki yang direbus/dikukus).

Semua makanan tersebut diberi cap merah atau ditempel dengan kertas merah dan dibungkus dengan cling wrap sebelum dibawa ke tempat sembayang. Seiring dengan perkembangan jaman, “Sa Se” yang dulunya direbus/dikukus utuh kini disederhanakan dengan dimasak menjadi masakan yang enak enak seperti semur, kari, opor, dsb baru kemudian dibawa secukupnya untuk keperluan sembayang saja.

3. Hari Makan Bakcang / Go Gwe Cok / Dragon Boat Festival

Perayaan ini dirayakan pada hari ke lima bulan kelima penanggalan Imlek. Dimeriahkan dengan lomba / pertunjukan Perahu Naga (Dragon Boat). Warga Tionghoa percaya bahwa pada hari tersebut segala sungai, laut, dan danau (segala perairan) adalah bersih dari kuasa roh jahat dan makhluk air yang jahat. Semasa kecil, kami akan berenang di sungai atau di pantai. Konon katanya “Bersih” ini Cuma berlangsung dari pagi hingga petang saja.

Dalam perayaan ini, keluarga juga berkumpul bersama untuk makan bersama. Menunya sama dengan menu “Thuan Yuen Fan” tetapi hanya beberapa saja yang dimasak sesuai selera masing masing keluarga. Menu utama dalam perayaan ini adalah “Cang” / Rice Dumpling. Ada 2 macam Cang yaitu “Ki Cang” dan “Bak Cang”.

“Ki Cang” adalah Cang yang tidak memakai isi. Bentuknya mini alias lebih kecil dari “Bak Cang”. Berasnya berwarna kuning karena diberi air “Ki”. Dimakannya plain saja atau dicolek ke gula / saos. Saosnya bermacam macam sesuai dengan selera masing masing orang. Ada yang colek srikaya pandan, srikaya gula merah, srikaya durian, selai kacang, bahkan kalo di rumah ibu, kami menyantapnya hanya dengan dicolek gula pasir saja. Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan “Ki Cang” yang ada isian Kacang Tumbuk. Menurut yang menjual, “Ki Cang” ini adalah khas Medan (karena yang bikin orang asli Medan).

“Bak Cang” adalah Cang yang diisi dengan berbagai macam isian dengan komposisi utama daging babi, udang hebi, lobak kering, jamur, jenis kacang kacangan seperti kacang tanah, chestnut dan sebagainya. Terdapat beberapa jenis “Bak Cang” seperti Nyonya Cang, Hokkian Cang, Teochew Cang, dan sekarang ada Vegetarian Cang. Yang menjadi pembedanya adalah cara masak dan komposisi isinya. Setiap dapur menghasilkan Cang yang berbeda beda. Kami biasanya membuat Teochew Cang, tetapi hasil dari dapur Ibu saya berbeda dengan dari dapur Mertua saya. Yang sama adalah bentuknya yang segitiga dan pembungkusnya yang dari daun bambu serta rasanya yang enak ^,^.

4. Bulan Hantu / Tahun Baru Orang Mati / Chit Gwe Pua

Perayaan ini dirayakan sebulan penuh (30 hari) dimulai dari hari pertama bulan ketujuh imlek. Puncaknya adalah hari kelimabelas. Di bulan ini, biasanya masyarakat Tionghoa menghindari keluar malam dan pernikahan.

Masyarakat yang masih memegang teguh adat leluhur akan sembayang didepan rumah masing masing. Membakar dupa dan uang kertas serta mempersembahkan sesajen (yang umum dijumpai) seperti Kue Mangkok Beras, Bolu Kukus Mekar dan berbagai macam sesajen lainnya sesuai dengan adat dan kebiasaan di masing masing daerah dan keluarga.

Konon katanya, sembayang dan sesajen adalah diperuntukkan bagi arwah arwah yang sedang merayakan Tahun Baru nya. Perayaan ini juga dikenal sebagai "Hungry Ghost Festival" dimana sesajen yang disembayangi di depan rumah adalah untuk hidangan bagi mereka yang kelaparan yang datang dari dunia lain supaya tidak masuk ke rumah untuk mencari makanan dan mengganggu ketentraman di dalam rumah.

5. Hari Makan Kue Bulan / Tong Chiu Cie / Mid Autum Festival / Moon Cake Festival

Dirayakan setiap hari kelimabelas bulan kedelapan imlek. Perayaan ini didasari mitos mengenai Chang’e (Dewi Bulan). Banyak versi cerita yang beredar dari perayaan ini. Perayaan ini dikenal juga sebagai Hari Valentine orang Chinese. Di dalam perayaan ini, menu utamanya adalah "Moon Cake" / Kue Bulan, Jeruk Bali (gak ngerti juga kenapa bisa ada menu jeruk bali ^,^) dan "Chinese Tea". Perayaan ini juga dirayakan dengan pesta lampion di malam hari sambil duduk di halaman rumah menikmati kue bulan, jeruk bali, dan teh sambil memandang bulan ^,^.

Ada berbagai jenis Moon Cake dengan berbagai macam filling. Ada yang dipanggang, ada yang snow skin, ada yang bentuk pia, dan sebagainya. Sedangkan untuk isinya, ada kacang merah, kacang ijo, biji teratai, yam, dan sebagainya. Ada yang single yolk (kuning telur), ada yang double yolk, dan ada juga yang plain (tanpa kuning telur). Semuanya enak…

6. Hari Makan Thang Yuen (Onde Onde) 

Perayaan ini biasanya jatuh pada tangal 21/22 Desember. Dalam perayaan ini, warga Tionghoa akan masak "Thang Yuen" / Onde Onde yang dimasakn dengan air gula pasir. Bentuknya bulat bulat, kadang plain, kadang ada isian seperti kacang ijo, kacang tanah, yam, kacang merah, dan sebagainya. Dibuat berwarna warni dihidangkan hangat hangat. Semasa kecil kami diberitahukan bahwa hari makan Thang Yuen adalah hari nambah umur. Jadi dengan makan 1 porsi maka umur kita akan bertambah 1 tahun. Bagi yang tidak makan tidak akan bertambah umurnya (tentu saja ini tidak benar). Keluarga yang berkabung berpantang membuat "Thang Yuen" sebelum 3 tahun dari berkabung di rumahnya dan diluar rumahnya, tetapi boleh memakannya. Begitu pula dengan Ibu Hamil berpantang untuk ikut membuatnya (saya juga tidak tau apa alasannya) tetapi bolah memakannya juga.

**********

Demikianlah 6 perayaan warga Tionghoa di Indonesia yang saya ketahui. Tentu saja tidak menutup kemungkinan adanya perbedaan di daerah lainnya di Indonesia. Bukankah Negara kita ini KAYA akan berbagai macam KEBUDAYAAN? Berbanggalah dalam “Bhinneka Tunggal Ika”!

Artikel ini saya tulis berdasarkan pengetahuan pribadi saya dilatarbelakangi tempat tinggal saya yang beberapa kali berpindah pindah hingga saat ini, yang saya peroleh dari pengalaman pribadi yang saya jalani setiap tahunnya dan dari pengajaran dan cerita dari sesepuh (keluarga yang lebih tua umurnya) didalam lingkungan keluarga dan masyarakat.

Jika ada teman teman sekalian yang ingin menambahkan, mengoreksi, memberi masukan, penjelasan lebih spesifik, dan sebagainya, silahkan menabahkan dengan menuliskan komentar anda dibagian comment post ini. Saya sangat berterima kasih dan menghargai niat baik teman teman sekalian. Kita bisa berbagi untuk menambah wawasan bersama. Semoga Sharing dari saya ini bermanfaat bagi semua.
Regards,

0 komentar:

Poskan Komentar