Jumat, 21 Oktober 2011

Kue Khu: Simbol Panjang Umur - Ditulis oleh Ophoeng Lou Feng Zhang

Bu Shirley, Bu Peppy, Bu Yani dan TTM semuwah,

Hai, pakabar? dah makan?

Kue Khu (mending dibedakan pake 'H' supaya gak rancu ama (A)Ku yang tanpa H ya), bener itu pengaruh dari budaya perdapuran Tionghoa. Biasanya Kue Khu dipakai untuk sesajen dalam sembahyang kepada Thian Kong aka Yang Maha Kuasa di atas sana.

Bentuknya pun berupa kura-kura, sebagai simbol panjang umur - kerana kura-kura dipercaya umurnya bisa ratusan tahun, gak ada matinye, macam higlander gitu lho, jweh!

Sesuai kemajuan jaman, sekarang Kue Khu banyak dibentuk dengan aneka jenis. Ada yang berrupa hewan, ada pula yang berupa buah-buahan. Maknanya apa, saya sendiri gak tahu lagi - sebab tradisinya sudah 'luntur' sih, euy!

Bahan dasarnya bener dari beras ketan, diberi center fill berupa tumbukan kacang ijo kupas (makanya warnanya jadi kuning mirip kedele), warna kueh-nya sendiri biasanya sih ijo atawa merah cabe gitu-lah.

Selain untuk sesajen kepada Thian Kong, ada juga yang menyertakannya sebagai satu 'syarat' dalam hantaran Man Yue (genap bulan) bagi anak yang baru dilahirkan pas pada saat usianya mencapai satu bulan. Mungkin maknanya sama: mengharap umur panjang bagi sang anak.

Ada juga yang menyebut Kue Khu sebagai 'kue citak' aka kue cetak, kerana memang cara buatnya dicetak pakai cetakan kayu berbentuk kura-kura yang bisa dibeli di toko penjual alat-alat kuwih-muwih di Pasar Senen, Jakarta.

Saya baru tahu kalau Kue Khu ada yang menyebutnya sebagai Kue Thok - 'thok'nya bukan dari 'kathok' mestinya tuh ya, mungkin kerana waktu hendak melepaskan si kue dari citakannya, mesti digetokkan pada sesuatu (kayu, misalnya)supaya si kue terlepas, dan ber-sfx (sound effect) bunyinya 'thok' sih ya?

Sebelum pada tanya, apa makna ketan dan kacang ijo, juga warnanya, saya sendiri gak tahu persisnya. Kerana jaman saya kecil, kami cuma diminta untuk mengikuti saja tradisi budaya perdapuran Tionghoa begitu, tanpa dijelaskan makna simbolnya. Saat kesadaran untuk bertanya-tanya muncul, keburu budaya Tionghoa dilarang oleh orde bau, eh, baru ding!

Begitulah sahaja kira-kiranya ya.....

Salam makan enak dan sehat,
Ophoeng
Email: ophoeng@yahoo.com

0 komentar:

Poskan Komentar